Menag: Ruh Gerakan SPAK Kemenag adalah Religiusitas dan Cinta

Menag Lukman Hakim Saifuddin di dampingi Trisna Willy, Sekjen M. Nur Kholis Setiawan dan Ses Itjen Muhammad Tambrin bersama Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan dan Wakil Pimpinan AIPJ2 Peter Riddel Care

Depok, [ItjenNews]"Kegiatan dimaksudkan untuk share setelah 164 orang kita ToT kan kemarin kemudian kembali ke daerahnya untuk mendiseminasikan pencegahan korupsi dan hari ini kita evaluasi Bersama," ungkap Sekjen M. Nur Kholis Setiawan saat Penutupan Evaluasi Pelaksanaan Program SPAK. "Pagi ini, dari laman Kementerian agama tak kurang dari 1271 kegiatan yang sudah dilakukan kader SPAK di daerah," sambungnya, Jumat (23/11).

Sejak 2016, Saya Perempuan Anti Korupsi (SPAK), sebuah gerakan yang dikenalkan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bekerjasama dengan Itjen Kemenag dan dukungan Australia Indonesia Partnership for Justice 2 (AIPJ2).

Untuk memperkuat gerakan SPAK di Kemenag, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berpesan agar gerakan SPAK Kemenag juga memasukkan ruh atau jiwa.  Hal ini disampaikan Menag saat menutup Evaluasi Pelaksanaan Program Pencegahan Korupsi SPAK.“Saya ingin memasukkan ruh atau jiwa dari gerakan ini. Tidak sekedar hanya spirit dan semangat. Dan ruh atau jiwa dalam gerakan ini adalah religiusitas, nilai-nilai agama,” tutur Menag dihadapan agen SPAK Kemenag.

Menurut Menag, nilai-nilai agama harus selalu menjadi landasan agen SPAK Kemenag dalam bergerak menyebarkan nilai-nilai anti korupsi.  “Memang prosesnya tidak mudah. Karena gerakan itu menuntut sebuah kesadaran. Dan derajat yang tertinggi kesadaran itu tumbuh, karena cinta. Cinta pada manusia. Cinta pada masyarakat, bangsa. Cinta pada sesama,” kata Menag. Ia berharap ruh tersebut muncul dalam diri Agen SPAK. "Gerakan ini kita sedang menumbuhkan kesadaran tidak hanya dalam diri kita sendiri, kesadaran ini harus terus kita jaga agar terus on the track sesuai nilai-nilai agama dan hukum yang berlaku," sambungnya.

Ini yang kemudian menurut Menag dapat menjawab pertanyaan mengapa korupsi harus diperangi. “Karena korupsi itu sebuah tindakan yang  tidak semestinya. Perilaku yang dapat merugikan sesama. Korupsi adalah perilaku asosial. Karena korupsi merusak tatanan masyarakat, oleh karena itu harus kita perangi,” tegas Menag.

Menag menjelaskan fungsi agen adalah menebarkan benih-benih agar terus tumbuh dan berkembang mengapa harus anti korupsi. "khoirunnas anfauhum linnas, mengajarkan kualitas keberadaan kita dinilai dari seberapa besar kita mampu menebarkan manfaat bagi orang lain," ujarnya. 

"Ketika kita berbicara cinta tidak ada hal lain yang menandinginya, oleh karenanya gerakan ini harus dilandasi cinta," tandas Menag.

 

Kontributor: M. Ubaidillah

Redaktur/Editor: Nurul Badruttamam/Fajar Harnanto

PERKIN TAHUN 2018

RENSTRA ITJEN