Menag Ajak Rektor PTKIN Serius Berantas Radikalisme

Menag saat memberikan arahan tentang penanggulangan radikalisme

Jakarta, [ItjenNews] - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin gelar halal bihalal bersama rektor PTKIN sekaligus diskusi tentang masuknya paham radikalisme di kampus. Bertempat di rumah dinasnya Komplek Widya Chandra, Jakarta Selatan. Acara tersebut dihadiri oleh 57 Rektor PTKIN dari seluruh indonesia dan pejabat di lingkungan Kemenag Pusat. Hadir sebagai pembicara Prof. Dr. Azyumardi Azra dan Brigjen Pol Hamli (Direktur Pencegahan BNPT), Jumat (29/6).

Prof Azyumardi Azra menyampaikan bahwa masuknya radikalisme di kampus sudah tidak perlu lagi ditutupi bukan saja di kampus umum tapi juga di kampus agama. "Kampus harus betul-betul memberikan dorongan kepada mahasiswa agar mendalami agama secara komprehensif bukan pemahaman agama yang ekstrim. Juga penanaman nilai-nilai lokal Pancasila dan kebangsaan harus kembali ditumbuhkan di kampus-kampus sehingga mahasiswa paham tentang negara dan bangsanya," ucapnya. 

Menurutnya harus ada kontra wacana di kampus dalam menghadapi paham-paham islam transnasional antara lain menjadikan PMII, HMI dan GMNI sebagai bagian intra kampus. “Rektor harus bisa memainkan peran yang lebih signifikan di kampus masing masing dalam upaya membendung pertumbuhan radikalisme di kampus karena pelaku radikalisme dan terorisme tidak mengenai asal mereka belajar,” tegas Azyumardi. 

Selanjutnya Brigjen Hamli menegaskan bahwa masyarakat PTKIN merupakan harapan utama dalam membendung radikalisme. “Dalam merekrut pengikut mereka menggunakan berbagai cara mulai penawaran kos-asrama hingga pemberian beasiswa untuk dipersiapkan untuk memimpin di berbagai lini di masa yang akan datang,” ungkap Hamli.

Hamli menambahkan, ada dua faktor yang membuat paham radikal masuk ke lingkungan perguruan tinggi, salah satunya yakni kurangnya pemahaman agama dan kurangnya pengetahuan tentang wawasan kebangsaan. "Sehingga faktor itulah perlu didorong untuk menanggulangi radikalisme menyebar di lingkungan kampus," tambahnya. 

Sebagai closing statement, Menag menyampaikan kepada terimakasih kepada narasumber yang bersedia hadir. Menag juga  menyampaikan sejauh ini belum ada indikasi perguruan tinggi islam yang terindikasi serius adanya penyebaran paham radikalisme di lingkungan kampus. Ia mengatakan penanggulangan harus dilakukan di semua perguruan tinggi tidak hanya perguruan tinggi Islam saja.

Disatu kesempatan, Menag sangat mengapresiasi paparan data yang disuguhkan Inspektur Investigasi Rojikin yang turut hadir dalam kegiatan tersebut. Rojikin menyampaikan paparannya usai narasumber memberikan pemantik diskusi, paparannya berisi tentang program pencegahan radikalisme yang dilaksanakan oleh Inspektorat Jenderal Kemenag.  

"Ada dua hal harus diantisipasi secara serius yaitu mulai maraknya pemahaman keagamaan yang cenderung ekstrim. Ekstrim itu berlebih itu lawan kata moderat. Jadi pemahaman-pemahaman yang berlebihan ini menurut hemat kami harus betul-betul diseriusi gimana penanggulanganya," kata Menag Lukman.

"Kedua, dari pemahaman itu muncul tindakan pengamalan keagamaan yang juga ekstrem, pengamalan tidak lagi moderat yang mudah menyalah-nyalahkan pihak yang berbeda dengan kita bahkan tidak hanya menyalahkan bahkan mengkafirkan sesuatu yang tidak hanya mengusik kehidupan keagamaan kita tapi juga merongrong atau mengancam keutuhan kita sebagai sebuah bangsa yang majemuk ini," sambungnya.

Untuk itu, dalam kesempatan ini, Menag Lukman berpesan kepada seluruh rektor agar merespons hal ini dengan serius. Ia juga berpesan agar para rektor memberikan sumbangsih pemikiran dan langkah-langkah yang kongkrit untuk menanggulangi hal itu. "Yang harus diantisipasi serius yaitu mulai maraknya keagamanan yang cenderung ekstrim,"  pungkasnya Menag Lukman.

 

Kontributor: M. Ubaidillah

Redaktur/Editor: Nurul Badruttamam/Fajar Harnanto