Buka Lokwas, Plt. Irjen Tegaskan Audit Kinerja Pembaruan Menjadi Audit Tusi

Plt. Irjen M. Nur Kholis Setiawan didampingi ses Itjen Muhammad Tambrin saat membuka acara Lokakarya Pengawasan (Foto: Noe)

Bogor, [ItjenNews] - Sekretaris Jenderal sekaligus Plt. Inspektur Jenderal Kementerian Agama M. Nur Kholis Setiawan membuka kegiatan Lokakarya Pengawasan Inpektorat Jenderal Kementerian Agama di Hotel Padjadjaran Bogor, Selasa (15/1). Mengusung tema “Meningkatkan Komitmen Integritas Pengawasan”, acara diselenggaran selama 3 hari kedepan.

Dalam arahannya Plt. Irjen M. Nur Kholis Setiawan mengatakan bahwa auditor adalah profesi yang sangat luar biasa. Auditor mampu menjembatani sekaligus membantu satuan kerja atau organisasi menghadapi era disrupsi. Di era ini terjadi banyak sekali perubahan. Disrupsi menginisiasi lahirnya model bisnis baru dengan strategi lebih inovatif dan kreatif.

“Auditor harus bisa mengembangkan dirinya. Jangan stagnan harus bisa berubah. Jangan sampai kegiatan audit hanya sebagai rutinitas. Kalau ini yang terjadi, tidak akan bisa mendongkrak kinerja pemerintah,” kata Nur Kholis.

Fungsi Itjen adalah sebagai ases. Sedangkan fungsi dari sekretariat jenderal sebagai assist. Jadi fungsi setjen adalah men-development atau mengembangkan. Selanjutnya fungsi Itjen adalah menilai dan mengevaluasi kompetitor. Kedua fungsi ini harus “nyambung”.

Menurut Perpres no. 7 Tahun 2015 tentang kepemimpinan di dalam Kementerian Agama dijelaskan bahwa pemimpin nama jabatannya Menteri. Pembantu pemimpin nama jabatannya sekjen. Pelaksana nama jabatannya dirjen. Pengawas nama jabatannya irjen. Dan terakhir pendukung nama jabatannya kepala badan. “Kesemuanya harus sinergis. Fungsi kesekjenan sebagai koordinator. Kemudian dilaksanakan oleh para dirjen. Diawasi oleh irjen. Didukung oleh badan,” jelas Plt. Irjen ini.

Lebih lanjut, Fungsi Itjen sebagai pengawas, dengan paradigm baru, tidak lagi sebagai watchdog tapi sebagai pemandu dan konsultan satuan kerja di Kementerian Agama. Menurut Nur Kholis, fungsi mitigasi mencegah terjadinya pelanggaran atau kesalahan itu lebih penting daripada menindak suatu pelanggaran.

Melihat jumlah satuan kerja yang banyak perlu ada inovasi dalam cara audit. Satuan kerja terbagi dalam lima kategori yaitu: Eselon I Pusat, Kementerian Agama Provinsi Kabupaten Kota, Balai Diklat dan Litbang, UPT Asrama Haji serta Perguruan Tinggi Keagamaan Islam dan Madrasah. Dari masing-masing kategori ini mempunyai karakter yang berbeda- beda dalam penanganannya.

Untuk itu audit bukan hanya dilakukan pada kinerja yang telah dilakukan tetapi kepada outlook atau proyeksi. Sehingga perlu dilakukan yang namanya audit tusi. “Sudahkah tusi yang ada di Kementerian Agama berjalan dengan baik. Kita mulai dengan audit tusi,”  tegas Nur Kholis.

Menurut Nur Kholis, audit kinerja yang dilakukan saat ini, output dan outcome-nya tidak pernah jelas. Plt. Irjen ini memakai istilah “miniless”. Karena apa? Audit yang dilakukan saat ini tetapi memeriksa dua tahun lalu. Itu menjadi tidak “nyambung”, karena bisa jadi peraturannya sudah beda. “Yang dilakukan pada audit kinerja saat ini yang penting ada proses bisnisnya, ada TOR, RAB, laporan dan SPJ,”  tandas Nur Kholis.

 

Kontributor: Agus Sujiarko

Redaktur/Editor: Nurul Badruttamam/Fajar Harnanto