Isi Kuliah Umum, Irjen Tanamkan Tiga Hal Penting Kepada Para Cator


Dok: ItjenNews

Bogor [ItjenNews] - Inspektur Jenderal Kementerian Agama, Nur Kholis Setiawan, Senin siang (2/10/2017) diagendakan mengisi kuliah umum pembentukan auditor ahli dan penjenjangan auditor muda, di Bilangan Bogor Jawa Barat. Kedatangan beliau disambut hangat oleh para calon auditor dan auditor yang sudah menjalani hampir sepertiga masa diklat. 

Irjen membuka kuliah umumnya dengan mengatakan bahwa Keberadaan APIP saat ini merupakan bentuk sadar sejarah. Nur Kholis mengaitkan hal ini secara kajian antarteks dengan mitologi Kesultanan Cirebon, sebagaimana kesultanan tersebut dapat bertahan karena membentuk Lajnah Muroqobah (Dewan Pengawas). 

"Untuk duduk dalam lajnah tersebut seseorang harus memiliki kompetensi yang cukup, berintegritas, dan mempunyai uswah (teladan) yang baik," ujar orang nomor satu di Inspektorat Jenderal Kemenag itu menekankan.

 

Oleh sebab itu, menurutnya diklat ini diharapkan menjadi kawah candra dimuka untuk membekali para APIP ini menjadi kompeten, berintegritas, dan bisa menjadi uswatun hasanah bagi auditan. "Seorang auditor hendaknya tidak awam,  punya bekal yang matang dalam melaksanakan tugas keauditorannya," lanjut Nur Kholis.

 

Kesempatan ini juga dimanfaatkan oleh Nur Kholis untuk menyampaikan kepada para calon auditor baru untuk menyikapi karakteristik dari satker-satker Kemenag. Nur Kholis membagi dan mengklasifikasi karakteristik tersebut setidaknya dalam lima kategori yaitu: 

1. Satker Eselon I

2. Satker Kantor Wilayah dan Kantor Kementerian Agama Kab/Kota

3. Balai Diklat dan UPT

4. Perguruan Tinggi

5. Satker Madrasah

 

Menurutnya, kelima karakteristik tersebut dapat dijadikan acuan dalam menentukan sikap dan perlakuan dalam melakukan pengawasan oleh Inspektorat. Ia mencontohkan, bila mengaudit unit Eselon I pusat dengan Kanwil atau Kankemenag pasti akan jauh berbeda secara kondisi. mengambil contoh, audit di wilayah pemekaran yang aksesnya hanya bergantung pada transportasi laut, maka hal ini akan menjadi soal tersendiri dan seharusnya butuh perlakuan khusus,

"Contoh, bila kita melakukan audit di Sovivi sana, yang aksesnya hanya bergantung pada kapal untuk menyebrang, sebagian besar ASN kita tinggal di Ternate atau Tidore, apakah ini tidak menjadi soal? saya pikir ini butuh perlakuan khusus," ujar Irjen. 

Irjen pun menyampaikan bahwa ke depan Auditor selain melakukan tusi pemerikasaan juga harus mampu membuat rekomendasi-rekomendasi sebagai landasan formal menyusun aturan terkait karakteristik satker yang ada di Kemenag.

"Auditor harus mampu memberikan "feeding" sebagai bahan masukan untuk menyusun perlakuan yang tepat bagi satker-satker kita," tukas Irjen, "Bila Auditor tidak memahami karakteristik satker ini bagaimana bisa menjadi early warner dan tentunya temuan akan berpotensi terus berulang," tegasnya.

 


Kontributor: Taufiqurrohman 


Redaktur: Moh. Asnawi


Fajar Harnanto | 2017-10-03 06:25:45 | Fajar Harnanto | 2017-10-03 06:35:40
Sirandang