Benchmarking Perpusnas, Ini Tiga "Oleh-Oleh" Kepala Perpusnas


Dok: [ItjenNews]

Jakarta [ItjenNews] - Bertandang ke Perpustakaan Nasional (Perpusnas), tim dari Inspektorat Jenderal lakukan benchmarking terkait layanan perpustakaan (21/12). Diwakili oleh staf pada Subbag Tata Usaha dan Humas, diikutkan pula beberapa dari sub bagian lain yang turut menimba ilmu di sana. 


Disambut langsung oleh Kepala Perpusnas Muh. Syarif Bando, lakukan ramah tamah di ruang kerjanya. Diterima dengan hangat, tim sampaikan maksud kedatangan untuk mencari pencerahan terkait pengembangan perpustakaan yang berada di Perpustakaan Itjen. 


Menurut Muh. Syarif, pada intinya pengelolaan perpustakaan di manapun itu membutuhkan keseriusan dan kontinuitas. “Saya menyambut baik kedatangan bapak-ibu, saya pikir di manapun letak perpustakaan itu semua harus dikelola dengan konsisten dan terus-menerus,” ujarnya. 


Pria berlogat khas timur itu pun menerangkan kiranya ada tiga hal yang bisa dilakukan oleh pengelola perpustakaan Itjen Kemenag, yang masih digolongkan pada tata kelola perpustakaan dasar. Pertama terkait penyediaan koleksi buku yang lebih beragam, khususnya yang sudah terklasifikasi dan menjurus ke arah tusi Inspektorat yakni pengawasan. “Paradigma Inspektorat itu sekarang sudah berubah menurut saya saat ini. tidak lagi menyalah-nyalahkan, namun lebih kepada bagaimana menghindarkan orang agar tidak berbuat salah,” ucapnya. “Sudah saatnya juga teman-teman di Inspektorat membuat bahan bacaan yang sifatnya mengedukasi. Misalnya, bagaimana mendapatkan predikat WBK,” lanjutnya.


Kedua, disampaikan orang nomor satu di Perpusnas itu terkait alih media untuk merespon perkembangan zaman. Menurutnya, jumlah pengguna internet sudah melonjak tajam. Jadi sudah saatnya media bacaan berevolusi menjadi dijital. “Jumlah pengguna internet saat ini dibandingkan dengan tahun 2014 melonjak sangat tajam. Sudah saatnya sebagai pengelola perpustakaan merespon itu. Manfaatkan media internet untuk memfasilitasi pembaca, salah satunya dengan mendijitalisasi koleksi kita,” terangnya. “Kita (Perpusnas) sudah mengembangkan sistem One-Source. Sistem ini diharapkan dapat mengintegrasi semua perpustakaan yang ada di Indonesia untuk memudahkan pembaca, tentunya yang sudah terdaftar sebagai member (Perpusnas)” sambung Muh. Syarif.


Terakhir, Muh. Syarif menyampaikan bahwa peran pimpinan organisasi amat penting untuk meningkatkan minat baca. Harusnya peran leader untuk menggerakan perupustakaan di lingkungannya amat besar. “Jadikan mereka duta-duta baca, itu harus,” tukasnya. “Sekarang coba kita lihat berapa buku yang kita baca dalam satu bulan? Saya cermati, mahasiswa saja yang tugasnya hanya belajar, paling (membaca) hanya enam buku, apalagi yang bekerja? ini jadi kritik bagi kita semua,” ujarnya. “Kurangnya minat baca bisa juga (karena) kita minim bacaan, bisa dilihat dari terbitan-terbitan penulis Indonesia yang hanya berkisar 3000an buku per tahunnya,” kritiknya. 


Sebelum meninggalkan ruangan, Kepala Perpusnas menerima kenang-kenangan berupa dua buku terbitan Inspektorat Jenderal Kementerian Agama, Yakni “Ensiklopedia Audit” dan ”Ayo Jujur Mengisi LHKASN dan LHKPN”. “Terima kasih, buku ini akan saya jadikan sebagai salah satu koleksi di sini (Perpusnas)," ujarnya ramah.

Kontributor: Fajar Harnanto
Redaktur: Moh. Asnawi


Fajar Harnanto | 2017-12-21 19:20:05 | Fajar Harnanto | 2017-12-21 19:24:09
Sirandang